Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisiku

Puisi Bingkai Mentari (Asa indara ft Semut malang)

Bingkai Mentari {Asemal} Harum awan membangunkanku Membuyarkan mimpi buruk semalaman Embun pagi menyapa lembut Menyentuhku terkulai tak berdaya Mengapa hari terasa berseri-seri Bangunku di sambut indahnya mentari Sejuknya udara pagi ini Membuatku terasa bahagia tak terkira Entahlah, ini apa lagi namanya Pandangan itu, sorotan tajam itu Mata yang seolah tiada mengeluh Menatapmu jauh dari hati Senyum yang menghangatkan hari Seminya mata itu Mengapa engkau sempurna? Salahkah aku ingin memuji? Rasa batin menyergah segala Penyebab kagum tercipta dengannya Bingkai fotomu lagi-lagi Terpeluk seraya membayangkan Percikan kagum ini kian indah Taman bunga cinta seakan tumbuh Menghias nama elokmu Dapatkah aku meminang cinta? Bisakah jika waktu terhenti? Sedetik saja untuk menatap wajahmu! Meski aku tahu akibatnya Meleleh kemudian tertindas mati Selesai.. Lampung, 21 Oktober 2017

Cerita Lama untuk Cinta Yang Tak Ada Habisnya

Andai Saja.. ANDAI SAJA Dulu, sebelum luka menamparku berkali-kali lipat dari biasanya, senyum manis selalu mengembang di setiap hari, membayangkan betapa indahnya kasihmu. Dulu, setelah kebahagiaan menggandrungi dunia kelamku, alangkah harunya hati mendapat kabar akan pengganti yang kan menjadi ramuan obat kala senja abu menjelang. Surga benar rasanya. Terasa terbenam oleh bunga unggun yang memancarkan aura asmara. Ingatkah engkau kala itu? Kita bagai dua sejoli yang terbang berdua seraya berpegangan tangan. Laksana pasangan setia yang sebentar lagi akan menggelar acara peresmian janji suci. Sayang! Mungkin ibarat punuk yang merindukan bulan, semua itu hanyalah bualan tak berpantai, sekadar untaian manis dari mulut yang tak bertanggung jawab. Dengan segan hati engkau pergi, melupakan ini semua, meninggalkan aku bersama ayunan tak berpijak. Tegakah engkau padaku? Terhuyung sendirian, menanti yang tak mungkin menghadiri, lantas terbuang mati tenggelam dalam lautan tak be...

Majas berselimut aksara

Kidung Tuba Laut cinta meriak luas Guruh langit kian mendebar Gelak lama tak lagi bersuara Kidung kasih tiada berirama Dukaku amat merasuk Jiwa, batin, kalbu, remuk redam Mengapa ini terkisahkan kembali? Kelepak bidadari tinggalah kenangan Tubanya hidup membuat kemuraman Sungai nan mendesir lambangkan atma Jikalau kandil tidak berhakkan janji Lantas kenapa nanar yang kudapat? Peri hati tak tersusun Menyasar menenggelamkan cerita Bila rajah memihak lain Pesi manakah yang kau maksudkan? Tinggalah duduk termangu Menatang harapan tak bertujuan Muhasabah diri jua tak berguna

Puisi Pemberontakan (Kolaborasi Puisi)

Landasan Tikus Landasan Tak Bermoral Asa ft. Jeff Ketika sebuah kata tak lagi bermakna Di saat itulah kita mencoba Mengubah sikap mereka Yang ter-propaganda Dengan dalil agama Bilamana tiada tersirat jua Lantas apalah jawaban? Dari sekian pertanyaan Pun dengan segala kebimbangan Gunakan logika dan agama Karna mereka semua berkaitan dalam jalan menuju sang kuasa Buat dunia tanpa propaganda Hentikan kebencian Ketika para setan berbentuk ulama mengahancurkan sebuah Kekuatan dalam keimanan Bongkar saja topeng drama! Mengapa ada sisa tipu daya jika fakta sudah mengamuk? Buang saja emas sampah tak berguna! Hilang martabat tak taulah diri Lampung, 17 Oktober 2017

Puisi Asmara (Asemal)

Sajak Cinta Untuknya Mahligai Cinta Asa Indara ft Semut Malang Kau memaksaku ungkapan rasa Perih tersiksa penuh keinginan Mengapa aku selemah ini padamu Hati ini telah lulus olehmu Deruan angin bagai nestapa Menjelepak hebat tiada terhingga Boleh aku merasa? Bercandu rindu penuh asmara Habis sudah sajakku untukmu Apalagi yang harus aku tulis Syair apa yang dapat aku tunjukkan Lihatlah aku, lihatlah cintaku Betapa kerasnya berjuang tanpa topangan Begitu hebatnya aku dalam menunggu Namun sayang, lagi Tiada tertoleh wajahmu padaku Tatap aku cinta Tatap diri yang lemah ini karenamu Mengemis cinta padamu Bagai habis sudah asaku Pernahkah terbesit dalam seruan hati? Maukah sejenak memihak? Sudah, sudahlah Harapan akan tetap menjadi harapan Mengapa aku diperbudak Dan mengapa aku menginginkan mu Butanya aku oleh rasa ini Namun kau membatu untuk ku harapkan Oh Tuhan, hingga kapan aku begini? Terpatri keji oleh rasa terlarang Baikkah bila aku kembali? ...

Sajak Api Tak Berair

Makan Api~ Bagai petir dalam mentari Seperti kehancuran diri Tapak kaki tak berdaya Lemah raga arungi jiwa Api yang menyambar-nyambar Bola netra tak bisa berbohong sendiri Menangis jadi beradu satu Air darah bertumpah menjulur panas Alunan lagu penuh kecaman Lepas dari hak untuk indah Sebab ini adalah amarah Tak bernyali meski bersuara Buang saja! Aku tak peduli Pergi saja! Takkan kukejar Bilamana ruang masih tersisa Raga itu takkan sama menapaki Jikalau percaya masih bernada Jiwa itu takkan sama menerima Selesai...

Muslihat Racun Dunia Dalam Sajak

Muslihat Racun Dunia Jenius itu takkan ada arti Otak itu takkan jadi berguna Tubuh itu layaknya hancur oleh tanah Diri itu pantasnya hilang dari peradaban Aku tidak memaksa Aku hanya berkomitmen Aku benci berdusta Aku jijik tipu daya Bila semua kau anggap biasa Maka geramku baiknya kau anggap biasa Bila angin saja berhembus tanpa permisi Maka aku juga tak ingin meramu atas izinmu Belatung apa yang kau simpan? Kotoran apalagi yang kau pelihara Rasa batinku memekik ingin keluar Hinalah rancu dalam sajak pedas Biar saja jadi satire Atau bahkan sakarsme Biar kau mengerti Marahku bukan permainan Selesai...

Puisi Kehilangan

Dia... Dia, Dia, Dia~~ Asa Indara Raga terasa telah jauh Jiwa mengena kian ambruk Tiada arahan, tak ada panduan Kemana lagi langkah akan kugerakkan? Deburan ombak seolah menggoncangku Jatuh, tenggelam dalam lautan sunyi tak bernyawa Gelap, setitik pelita hilang dari genggaman Cahya-Mu seolah melesap bersama kemaksiatan diri Pantaskah aku masih bernapas? Pantaskah aku masih ada di dalam naungan? Arus ini kian menderu kuat Menamparku berulang-ulang  Kakiku, lenganku, tubuhku kaku membeku Permata hati hancur, remuk redam Oh Sang Penjagaku siang malam, hakkah ragaku kembali bersama dekapanmu? Sungguh, rinduku menyakitkan Duniaku kelam, abu-abu tak berwarna lain Syair cinta ini benar mendalam dalam doa Sebab hanyalah nama-Mu yang ada Berilah secarik jawaban atas ini Biar pecah tangisku, biar peluh aku bersujud Aku bisa apa? Tiada berguna aku tanpa-Mu Lampung, 11 Oktober 2017 Thanks to Allah.. Thanks to Rezki Alharith Jung 😌😌 salam gemintang pe...

CURAHAN HATI SURAM

Laksana melodi tak beriring.. Monoton, membentuk satu garis.. Tujuanku; pergi dari hidupmu.. Selesai~~ Asemal Memanggil cinta  Membisu tanpa jawaban  Tanpa kata-kata  Walaupun diterpa hujan Dilema aku pada tanya Mungkin inikah jawabnya? Apa benar dia? Selajur irama lagi tak bersuara Ku bisa merasakannya  Buta saat melihatnya  Anugerah atau musibah  Diri ini takut berdarah Nestapa kian sunyi Mendiamkan melody Meretaskan imaji Haruskah aku pergi? Jangan bebaskan rasaku  Tangan ini penuh paku  Menjerit dalam angan  Aku bicara pada bayangan Bicaralah... Katakanlah... Mengapa segalanya Terenggut lepas olehmu? Logika ini memaksa  Rasa ini masih menjerit  Tak mengertikah engkau  Aku pupus dalam abu Melebur aku dalam-dalam Memerih, memendam pahit Lukaku kau gores lagi Lagi, lumpuh aku tanpamu Lampung, 10 Oktober 2017

Puisi Akrostik Suara Adinda

Akrostik (Ochalipto) Ochalipto~ Suara Adinda Oh Tuhan, hanya kekata rancu terbesit indah untuknya Cerita lama yang sempat menggetarkan jiwa Sang Cinta Habiskan tenaga nan lemah oleh ribuan volt kasih lembutnya Andai-andai tiada lagi punya kesempatan Lupakah ia tentang kenyataan ini benar adanya tanpa tipuan? Ingatan ini tetap jelas sayangnya; melukis wajah teduhmu Paras sejuk yang takkan pernah kuhilangkan Tatanan kata hati penuh nestapa pun lenyap bersamamu, Peramu nada Oh Tuhan, sampaikanlah meski aku terbata Lamp-pekalongan//051017//AI

Semut Malang (Akrostik)

Puisi Akrostik Semut Malang~ Oleh : Asa Indara Sejak kala mentari berpendar Entah ini apa namanya Mencandu rasa tak menentu Urung aku menerka Takut ini memenjara hati tak tersisa Mega kian putih melayang bagai ratu Akankah seperti ini? Lalui hari penuh dengan warna Akan engkau di sini Nestapa seolah gentar berpencar Gundukan rinduku telah sampai Lampung, 041017

Ujaran Hati Sang Pengembara Sajak (puisi)

Untaian tali rasa oleh tinta Biarlah~ Oleh : AI Biarlah... Aku tetap di sini Menatap sungai penuh kisah Mengharap kepergianmu akan kembali Biarlah... Ragaku bergetar hebat Menahan luka terbesit dalam Hingga aku luapkan suatu saat nanti Biarlah... Langit terus berduka Melukiskan patahan hati Sang Cinta Yang tercipta karena hadir dan hilang Biarlah... Waktu melepaskan kita Saling menghadap ke arah lain Berbicara sendiri; bagaimana baiknya? Biarlah... Jiwa rapuh kian Meremas dada; tangisi lara Meyakinkan diri akan langkahmu lagi Biarlah... Biarlah... Biar aku yang sakit Biar pula aku menunggu Biarlah... Biarlah... Meski tanpa jawaban Semua akan tersahut oleh masa Maka... Biarlah... Biarlah... Biarlah... Lampung, 03 Oktober 2017

Sajak Kematian (puisi)

Sajak Kematian...      Terkadang kita harus mengalami penyesalan sebelum mengenal pembelajaran. Namun, pernahkah engkau terpikirkan? Haruskah kita mati sebelum mengenali makna akan hidup?      Oh Tuhan.... Semoga kita selalu memanfaatkan sisa umur dengan sebaik mungkin, sebermanfaat mungkin. Oh, tunggu! Kita bukan sedang bicara soal mungkin, melainkan kenyataan yang akan datang kapan saja. Maka dari itu, selarasnya dapat kita artikan dengan semestinya. Lantas apa jawabnya?      Apa Jawabnya? Ochalipto ft Asa Indara Bila tua telah menghampiri  Pasti lah sama rambut memutih  Jalan tak lagi tegak Hanya terhuyung tak berdaya Ingatan memudar atau lupa  Pengelihatan buram senyap  Melangkah bagaikan tak mungkin  Tinggalah senyum menelan batin Usia indah tamat sekejap Terasa cepat lalu lenyap  Kepingan kenangan menghiasi hari yang gersang  Gundah, pasrah, lelah, usang Dengarlah alunan p...

(Puisi) Imaji Hati (Asa ft Semut malang)

Segumpal empedu penuh kisah pilu      Pernahkah melamunkan kisah lalu, dilanda kegalauan penuh kesukaran, lantas menangis tanpa sebab? (Eeaaa)          Ya...mungkin ini adalah sebagai wakil dari penyampaian itu. Singkat, namun padat oleh makna rindu. (Nggak kuat adek bang) :V      Asa mempersembahkan, puisi singkat kolaborasi. Imaji Hati Asa indara ft Semut malang Suasana ku lelah tertatih Terhujam penyesalan pedih Ini bukan cinta atau benci Terus tersayat oleh ironi Lentera harap tiada lagi berpendar Hati suram kian meremukkan Rasa itu hilang Terbawa arus keheningan Kelamnya harapan Cinta terbungkus kegelapan Serpihan kalbu yang runtuh Menjadi hidup tak lagi utuh Andai engkau di sini Masih di sini Menemani sunyi Merubah kisah imaji; bersamamu kasih Lampung, 03 Oktober 2017

(Puisi) Rinduku ke mana?

(Puisi) Rinduku ke mana? Rinduku ke mana? Karya : Asa Indara Haruslah bagaimana? Bahkan, mentari enggan menyapa Lantas kembali tenggelam bersama kepedihan Aku hilang arah dan tujuan Sajak-sajak penuh kekata indah darimu Tiada lagi berguna Ke mana? Rinduku Kaulah alasan, mengapa aku terus terpatri kuat menatap awan Bersama hati yang tiada henti melantunkan nada cinta Harapan, kasih, semuanya Aku ingin kau berteriak Beritahu keberadaanmu, Kasih Tegakah engkau biarkan? Ke mana rinduku? Bila mungkin masa benar menolak kebersamaan kita Mengapa ia memberi kesempatan akan kehadiranmu? Sesakit inikah? Kehilangan rindu Bila mungkin angin benar mengizinkan napasmu menderu menerpaku Mengapa ia menolak kala hembusan udara menyatu dalam rasa? Sepedih inikah? Ditinggalkan rindu Wahai Pangeranku, Dengarkan aku sebisamu Kembalilah bersama dirimu yang dulu Bersama angin asmara yang berpadu Namun, jika memang tak bisa Maka janganlah menampakkan bayangan dalam...

Puisi Jauh dan Jarak (A.M)

Ungkapan Rinduku Untukmu Pictby.Google Kolaborasi puisi JAUH DAN JARAK Asa Indara ft Miftahul  Siang berganti malam, pun malam berganti pagi kemudian Tiada satu lafadz doa untukmu tertinggal Tentang harapan dan tujuan kita terawal Meski luka-lara baluti jiwa, meski tangis hiasi teduh Sang Mata Belum lama, kisah kita dimulai kala berjumpa diantara sejuknya malam Berdua di rerimbunan daun cinta Kita bersenda, gurauan penuh sajak kasih Bermula kala aku, kau, membaur dan menyatu di balik gelap malam menjadi kita Hingga tibalah saat itu, Di mana dentingan arloji seolah terhenti Keheningan ini kian membara, hati ini membeku Kau-lah yang kutunggu Menimbun asa kerinduan di balik kecemasan akan engkau Kau sedang apa di sana? Aku merindu, Sayang Dalam hening sepi mengelayuti ruang hampa; hati Yang dulunya berbunga, kini layu, mati, lalu sirna dan kembali hampa Akankah selamanya akan seperti ini? Lantas tegakah kau biarkan? A...

Puisi Hujan (Asa indara ft. Ochalipto)

www.asaindara.blogspot.com Puisi Hujan (Asa ft. Ochalipto) Pictby.google   ~Hujan~ Asa ft Ochalipto Ketika langit mulai membeku Kala itu rinduku kian menggebu Meski sudah tiada hadirmu Hati tak gentar mengalunkan lagu Suasana ini mewakili Bahwa sesuatu tidak harus memiliki Menunggu bukan lah hal yang memastikan Kejar bila perlu jatuh tetap bangun  Sempat awan menertawakan  Dengan turun derasnya hujan Apa maksudnya perihal ini Bermaksud memeluk tapi hendak terbuang  Andai masa dapat kembali Mungkin kekata cinta akan tertimbun Lantas hilang lalu mati Hingga aku tak di sini--mengharap dengan melamun Selasa, 26 September 2017

Puisi Lukisan di atas ranah (Asa Indara)

asaindara.blogspot.com Pictby.google Tema: Syukur Judul: LUKISAN DI ATAS RANAH Karya: Asa_Indara Terik mentari menyengat ranah Kupandangi ia di sana Berteduh dengan kaki gemetar Pahatan wajah ketegaran jelas tergambar Tekadnya membara kuat Menaungi gubuk reot hempaskan penat Menyeka pipi keriput penuh keringat Dahaga nan lapar tertahan hebat Tubuh renta berambut putih menjelepak Tanpa alas ia berpijak Hanya terbalutkan celana hitam panjang penuh kusam Biarkan punggung legam oleh sengatan panas alam Sebilah kayu membantunya berjalan Namun, tetap tegap mengais recehan uang Meski keluarga ia tak punya, meski raga kian menua Syukur rasa terlukis darinya Lampung, 03 April 2017

Puisi Untuk Kartiniku(Asa Indara)

www.asaindara.blogspot.com Puisi Hari Kartini      Assalamu'alaikum sahabat literasi! Salam hangat dariku untukmu wahai perangkai kata indah penuh kisah. (Mulai lagi deh 'kan!)      Di sini Asa akan menampilkan seberkas puisi untuk pahlawan kita. R.A Kartini. Selamat membaca! ^-^ ~UNTUKMU KARTINIKU~ Karya: Asa Indara . Laksana pilar di tengah ombak Begitu gagah berdiri tegak Meski diterjang hebat, tak ada rasa ketakutan Demi arti sebuah kemerdekaan Peduli setan ragamu terkikis Pun jiwa berpeluh, netra penuh tangis Ini bukanlah demi diri Melainkan nasib anak-anak Negeri Andai jasa dapat terlukis Entah, berapa ribu kanvas  yang 'kan habis Tuk gambarkan jutaan makna perjuangan Demi sebongkah kehormatan perempuan Untukmu, Putri sejati Wanita pejuang kami Tak cukup hanya tersurat dalam syair puisi Tentangmu, wahai Kartini Lampung, 21 April 2017 . "Habis gelap terbitlah terang" -RA. Kartini . ...