Langsung ke konten utama

Postingan

Kutipan Rindu | Prosa | Asa Indara

Batas Senja Kau tahu hal yang lebih melelahkan dari berlari?  Ialah menanti yang tak mungkin menghadiri. Dulu, sebuah kisah di masa lalu kala masih bersamamu. Sebelum akhirnya ragamu melebur oleh peristiwa pilu. Aku masih tak bisa menerima kenyataan pahit itu. Sebab fakta yang kuterima adalah kamu masih terus ada di setiap ku membuka mata.  Saat itu juga pandangan netra memudar, lantas berbinar sedih beriringan air mata. Namun, lagi-lagi aku lupa akan suatu hal. Sebab... Sepanjang hembusan napasku pun, tiada mungkin jemari ini menyentuhnya. Secepat waktu berjalan pula mustahil aku memandang bayangan saja. Ya Tuhan.. Aku masih membutuhkan jawaban. Atas rasa kami yang hanya terbesit lewat hati. Tetapi, ketika indanya telah kutemukan bersamanya, tiba-tiba dengan mudah ia menghilang. Jauh. Hingga aku tak mungkin lagi di sini. Jikalau dunia merenggutmu dari cerita, lantas mengapa hanya ada batas senja, yang tersisa sebagai ujung kenangan yang per...

Kumpulan Cerita | Asa Indara

Tanpa Kata" Kumpulan cerita | Asa Indara Satu, dua, tiga, detik menit kian berlalu.  Menjauhi masa lalu, meramu kisah baru.  Tanpa dirimu.  Bersama rindu aku di sini, dengan rasa yang sama diri menepi.  Hanyalah satu tanya terbesit dalam batin, akankah kau kembali? Jawablah , Sayang? Aku menunggumu tanpa masa. Aku mencintaimu tanpa kata. Lantas, mengapa? Alasan apakah kau segan meninggalkan rasa? Kala kaki itu mulai menjamah keraguan, kala lengan itu mulai beringsut ke tepian, tak ada secercah 'kah penjelasan?  Haruslah kau tahu, Adinda. Mengejar seseorang yang enggan menoleh itu adalah perih. Tetapi adalah hebat jika mampu memperjuangkan. Dan sekali lagi,  bilamungkin kau 'kan berpaling, melangkah ke belakang, di mana aku ada, segalanya masih sama. Dengan atau tanpa kata, Rindu ini, rasa ini, semuanya. Lantas apabila kenyataan pahit terasa menghampiri,  setidaknya aku siap, siap dengan hati yang lapang. Mengikhlaskan...

Puisi Arisza Nadia | Jangan Takut Berubah | Sahabat | Asa Indara Story

"Jangan takut berubah" Cipt. Arisza Nadia Teman.. Siapapun kau dimasa lalumu Apapun kau di masa larutmu Bagaimanapun kehidupanmu Dan Sepertii apapun yang pernah kaukerjakan semasa hidupmu Kemarilah.. Ku awali tulisan sederhanaku ini Dengan kembali pada segenap niat di hati Bukan maksud untuk menghakimi Bukan maksud untuk mempergurui Bolehkah aku memberitahu sesuatu? Sesuatu yang kuingini agar kita dapat dipertemukan di tempat yang indah? Aku ingin kau mengerti, Dunia memang begitu kejam dengan sandiwaranya Bahagia sementara selalu berhasil menggerutu tiap-tiap jiwa Hingga membuat lupa ada masanya kehidupan kekal Tapi tenanglah, Tidak ada kata terlambat untukmu berubah Tidak ada buruknya kau ingin berubah Lalu , apa yang kau ragukan? Jangan, Jangan ragukan hatimu Jangan takutkan prosesnya Jangan mundurkan langkahmu Memang, Kau akan kehilangan teman Kau akan kehilangan kehidupan nyamanmu Kau akan kehilangan kebahagiaan semumu Tap...

Puisi Pamit (Arisza Nadia) | Asa Indara Story

"Aku pamit" Cipta Karya - Arisza Nadia - Maaf Mungkin kata itu yang mampu kuucapkan Maaf sudah membuat pagi mu terasa kelam Membuat hatimu terasa kelu menerima sajak yang kurangkai usainya Tuan , Saat ini aku memilih untuk menjauhimu Meski karenanya aku harus menahan diri dengan rindu Aku memilih untuk melepaskanmu Meski karenanya aku harus melewati duri itu Tuan , Bukan maksudku untuk memberimu luka Bukan inginku melihatmu patah Namun, Ikatan tak pasti antara aku denganmu bukanlah suatu kebahagiaan yang benar Aku takut Dia cemburu  Sudahlah,  Ada yang memang harus dilepaskan demi hal lain Aku hanya ingin menjauh untuk menjaga memantaskan diri, Terlebih lagi berada disamping mu kelak Harapku, Tetaplah berjalan meski tanpa adanya aku sekalipun Membijaklah meskipun aku tau saat ini hatimu terpatahkan Sadarilah Ketika aku harus mematahkan hatimu Bahwa aku yang sebenarnya mematahkan hatiku terlebih dahulu Kita sama-sama terluka Namun itula...

Aksara Dalam Nyanyian (best project 2017)

Ya memang, semua berawal dari sebuah kesederhanaan. Tak bisa dipungkiri apalagi kita lari, lantas memaksa tak mau mengerti. Biar bagaimana pun itu tetap terjadi, meski tanpa permisi, dan itu semua lagi-lagi berakhir dengan hati. Pergantian Terulang Sejak awal mentari berpendar untuk pertama kalinya dari sekian lama aku berpasung diri dalam kegelapan, rasa tak tergerak sedikitpun. Hanyalah kehampaan yang ada, kesakitan yang masih membekas sebab rindu nan tiada berbalas; pedih. Hingga aku kembali percaya pada waktu, pada alunan dentingannya meski sedikit terbesit benci dalam kidung tak bertuju. Goyah raga, jatuh melayang dalam keheningan, pikiranku buyar tak berarah. Pergi untuk kembali 'kah? Seolah kekata tiada guna kuramu dari sekian ratus ramuan terdahulu. Perjalanan ini melelahkan! Sedetik kau mematahkan dan sedetik pula kau terbangkan. Lantas kau ulang, kian patah, kian merobek dan menghujam organ dalam. Oh, sudikah kau beri alasan? Atas perum...

Kumpulan Gambar Caption Sedih, Duka, Kecewa | Asa Indara

Kumpulan gambar (caption) Asa Indara dari berbagai sumber.

Novel Setelah Berkali-kali Patah

SETELAH BERKALI-KALI PATAH Bab.1 Tragedi Nilai Sekolah "Kamu ini bisa dibilangin apa enggak, hah?! Kalau waktunya belajar ya belajar, bukan malah main hape aja kerjaannya! Kamu ini bapak sekolahin biar jadi pinter. Jadi jenius kayak mbakmu, masmu. Kamu nggak mau jadi pinter?!" "Ta-tapi jangan hapenya, Pak. Aku ada lomba karya cipta puisi online. Dan deadline-nya nanti mala...m-" "Lomba-lomba apa kamu?! Tugas kamu itu cuma serius belajar! Nggak usah ikut yang aneh-aneh!" Gadis berseragam SMK itu menangis, memohon pada lelaki tua di hadapannya sambil bersimpuh. "Udah to, Pak. Kasihin aja hapenya," celetuk ibu, keluar dari bilik tengah bersama segelas kopi untuk suaminya. "Ck. Biar kapok ini anak! Dikasih hati malah minta yang lain. Dikira bayar sekolah itu kayak nyobek kertas?" Bapak beralih duduk di kursi lincak, melempar buku rapot ke lantai, lalu meraih kopi di atas meja. "Ssffrrtt.... Yang namanya sekolah itu b...

Puisi Bingkai Mentari (Asa indara ft Semut malang)

Bingkai Mentari {Asemal} Harum awan membangunkanku Membuyarkan mimpi buruk semalaman Embun pagi menyapa lembut Menyentuhku terkulai tak berdaya Mengapa hari terasa berseri-seri Bangunku di sambut indahnya mentari Sejuknya udara pagi ini Membuatku terasa bahagia tak terkira Entahlah, ini apa lagi namanya Pandangan itu, sorotan tajam itu Mata yang seolah tiada mengeluh Menatapmu jauh dari hati Senyum yang menghangatkan hari Seminya mata itu Mengapa engkau sempurna? Salahkah aku ingin memuji? Rasa batin menyergah segala Penyebab kagum tercipta dengannya Bingkai fotomu lagi-lagi Terpeluk seraya membayangkan Percikan kagum ini kian indah Taman bunga cinta seakan tumbuh Menghias nama elokmu Dapatkah aku meminang cinta? Bisakah jika waktu terhenti? Sedetik saja untuk menatap wajahmu! Meski aku tahu akibatnya Meleleh kemudian tertindas mati Selesai.. Lampung, 21 Oktober 2017

Cerita Lama untuk Cinta Yang Tak Ada Habisnya

Andai Saja.. ANDAI SAJA Dulu, sebelum luka menamparku berkali-kali lipat dari biasanya, senyum manis selalu mengembang di setiap hari, membayangkan betapa indahnya kasihmu. Dulu, setelah kebahagiaan menggandrungi dunia kelamku, alangkah harunya hati mendapat kabar akan pengganti yang kan menjadi ramuan obat kala senja abu menjelang. Surga benar rasanya. Terasa terbenam oleh bunga unggun yang memancarkan aura asmara. Ingatkah engkau kala itu? Kita bagai dua sejoli yang terbang berdua seraya berpegangan tangan. Laksana pasangan setia yang sebentar lagi akan menggelar acara peresmian janji suci. Sayang! Mungkin ibarat punuk yang merindukan bulan, semua itu hanyalah bualan tak berpantai, sekadar untaian manis dari mulut yang tak bertanggung jawab. Dengan segan hati engkau pergi, melupakan ini semua, meninggalkan aku bersama ayunan tak berpijak. Tegakah engkau padaku? Terhuyung sendirian, menanti yang tak mungkin menghadiri, lantas terbuang mati tenggelam dalam lautan tak be...

Majas berselimut aksara

Kidung Tuba Laut cinta meriak luas Guruh langit kian mendebar Gelak lama tak lagi bersuara Kidung kasih tiada berirama Dukaku amat merasuk Jiwa, batin, kalbu, remuk redam Mengapa ini terkisahkan kembali? Kelepak bidadari tinggalah kenangan Tubanya hidup membuat kemuraman Sungai nan mendesir lambangkan atma Jikalau kandil tidak berhakkan janji Lantas kenapa nanar yang kudapat? Peri hati tak tersusun Menyasar menenggelamkan cerita Bila rajah memihak lain Pesi manakah yang kau maksudkan? Tinggalah duduk termangu Menatang harapan tak bertujuan Muhasabah diri jua tak berguna

Puisi Pemberontakan (Kolaborasi Puisi)

Landasan Tikus Landasan Tak Bermoral Asa ft. Jeff Ketika sebuah kata tak lagi bermakna Di saat itulah kita mencoba Mengubah sikap mereka Yang ter-propaganda Dengan dalil agama Bilamana tiada tersirat jua Lantas apalah jawaban? Dari sekian pertanyaan Pun dengan segala kebimbangan Gunakan logika dan agama Karna mereka semua berkaitan dalam jalan menuju sang kuasa Buat dunia tanpa propaganda Hentikan kebencian Ketika para setan berbentuk ulama mengahancurkan sebuah Kekuatan dalam keimanan Bongkar saja topeng drama! Mengapa ada sisa tipu daya jika fakta sudah mengamuk? Buang saja emas sampah tak berguna! Hilang martabat tak taulah diri Lampung, 17 Oktober 2017

Puisi Asmara (Asemal)

Sajak Cinta Untuknya Mahligai Cinta Asa Indara ft Semut Malang Kau memaksaku ungkapan rasa Perih tersiksa penuh keinginan Mengapa aku selemah ini padamu Hati ini telah lulus olehmu Deruan angin bagai nestapa Menjelepak hebat tiada terhingga Boleh aku merasa? Bercandu rindu penuh asmara Habis sudah sajakku untukmu Apalagi yang harus aku tulis Syair apa yang dapat aku tunjukkan Lihatlah aku, lihatlah cintaku Betapa kerasnya berjuang tanpa topangan Begitu hebatnya aku dalam menunggu Namun sayang, lagi Tiada tertoleh wajahmu padaku Tatap aku cinta Tatap diri yang lemah ini karenamu Mengemis cinta padamu Bagai habis sudah asaku Pernahkah terbesit dalam seruan hati? Maukah sejenak memihak? Sudah, sudahlah Harapan akan tetap menjadi harapan Mengapa aku diperbudak Dan mengapa aku menginginkan mu Butanya aku oleh rasa ini Namun kau membatu untuk ku harapkan Oh Tuhan, hingga kapan aku begini? Terpatri keji oleh rasa terlarang Baikkah bila aku kembali? ...

Sajak Api Tak Berair

Makan Api~ Bagai petir dalam mentari Seperti kehancuran diri Tapak kaki tak berdaya Lemah raga arungi jiwa Api yang menyambar-nyambar Bola netra tak bisa berbohong sendiri Menangis jadi beradu satu Air darah bertumpah menjulur panas Alunan lagu penuh kecaman Lepas dari hak untuk indah Sebab ini adalah amarah Tak bernyali meski bersuara Buang saja! Aku tak peduli Pergi saja! Takkan kukejar Bilamana ruang masih tersisa Raga itu takkan sama menapaki Jikalau percaya masih bernada Jiwa itu takkan sama menerima Selesai...

Muslihat Racun Dunia Dalam Sajak

Muslihat Racun Dunia Jenius itu takkan ada arti Otak itu takkan jadi berguna Tubuh itu layaknya hancur oleh tanah Diri itu pantasnya hilang dari peradaban Aku tidak memaksa Aku hanya berkomitmen Aku benci berdusta Aku jijik tipu daya Bila semua kau anggap biasa Maka geramku baiknya kau anggap biasa Bila angin saja berhembus tanpa permisi Maka aku juga tak ingin meramu atas izinmu Belatung apa yang kau simpan? Kotoran apalagi yang kau pelihara Rasa batinku memekik ingin keluar Hinalah rancu dalam sajak pedas Biar saja jadi satire Atau bahkan sakarsme Biar kau mengerti Marahku bukan permainan Selesai...

Dengan-Mu Aku Dengannya (Part1)

Dengan-Mu Aku Dengannya (Part.1) Lampung, 2014    Hiruk pikuk aula masih kental menggema, akhir masa OSPEK akan tuntas hari ini juga. Mahasiswa senior berkumpul di barisan paling depan, memandu upacara penutupan.    "Hoi! Baris yang bener dong!" Salah satu panitia berkacak pinggang, kesal sebab peserta paling belakang tak mau diatur.    "Eh, busyet! Pengeng kuping gue nying!" Tidak heran kebanyakan sibuk bisik-bisik memaki, mengumpat tak tahan sambil mengacak telinga.    "Suara siapa itu!"    Deg. Aku ikut hening. Selain punya suara yang bergetar dia juga punya pendengaran amat tajam. Bahaya.    "Sampai ada yang bisik-bisik tetangga lagi...." Suaranya sedikit mengancam tanpa melanjutkan ucapannya.    Barisan seolah bergerak sendiri, tiba-tiba sudah rapi dan tidak ada pula yang mengobrol.    Kemudian, acara berjalan dengan lancar. Peserta maupun panitia bersorak kesenangan. Akhirnya seles...

Surat Terakhir (prosa)

Surat Terakhirku.. Ini adalah hari ke tujuh aku tanpa kamu. Di mana sebelumnya aku masih merasakan hangatnya senyum itu. Di mana hari itu, adalah hari pertama aku melihat wajahmu, kita saling bertatap, bercakap singkat penuh kecanggungan. Dan sekarang, aku baru menyadari bahwa itu juga hari terakhir komunikasi berjalan. Entah! Aku ini kau anggap apa? Hatiku kau pikir jenis apa? Ini bukan hati baja yang selalu kuat meski diterjang hujaman benda tajam! Aku bisa terluka seperti dirimu. "Assalamu'alaikum," sapamu kala itu. "Wa'alaikumussalam, Bang." Aku masih tak menyangka kamu akan menghubungiku lewat VideoCall. "Ngapain?" "Lagi nunggu temen, Bang." "Lha, nggak sekolah?" "Ini udah mau berangkat. Masuk siang aku, Bang." Jantungku berdegup dua kali lipat dari biasanya. "Ooh. Uuhuk!!" Kamu batuk? "Iya, lagi tak enak badan. Ekhem," ujarmu menyegarkan tenggorokan. Aku yang masi...

Kisahku sebagian dari kisahmu

Kisah yang hilang? Tepat pukul 15.00 WIB Terduduk memandang wajahmu. Wajah semu dari bayangan yang masih lekat dalam anganku. Keteduhan itu ingin kulenyapkan. Biar aku segera menyadari; mengharapkan hadirmu hanyalah sebuah hayalan belaka. Hubungan ini tiada berguna, tiada kepastian. Kelam. Penyesalan yang sempat menderu seolah kian menyeruak, merobek sebungkus rindu. Lantas terbuang sia-sia tak berbalaskan. Kakiku bergelayut di atas tanah basah oleh hujan. Tubuhku menggigil, dingin ini membekukan. Arlojiku masih berdenting merdu, menghitung kapan tibanya engkau bersama kabar. Benarkah kau akan datang di kala senja mulai mendekat, menyapa langit dengan ceria? Aku menunggumu. Aku menunggumu. Akan terus kutunggu meski telah jatuh air mata berkali-kali. Hingga akhirnya aku baru kembali bangun. Mimpi ini lagi? Dadaku masih sesak, napasku memburu, pertanda apa? Akankah ini jawaban? Atas perbedaan dan juga perubahan? Ingin rasanya aku bertanya, mencari tahu untuk semua yang me...

Cerpen Hitam Putih

Hitam Putih~~ Lampung, 12 Oktober 2017 Di sepertiga siang, di kamarku sendiri, menatap langit-langit tipuan. Masih sama seperti kemarin. Tidak punya jawaban atas apapun. Mengapa ini terjadi lagi? Sudah hampir lebih dari 2 bulan, bahkan aku lupa kapan waktu pertama kali ia menyapaku. Yang terlintas hanya rasa sakit dan juga sedikit kecewa. Aku tidak peduli ataukah suatu saat dia akan membaca ini. Yang aku tahu, adalah aku ingin kembali merasakan keasingan; tanpanya. Sebelum akhirnya hati ini kembali terbelah oleh cinta yang salah. Sebelum juga aku menyesal sudah menyimpan separuh rasa untuk dia yang tak pernah lengah membuatku lelah. Aku benar-benar diuji. Antara hidup dan mati. Sekalinya benar apa kata logika, percumalah engkau rasa bila ia tidak merasa. Namun sebetulnya ini adalah perasaan yang sebanding, saling ingin mengikat satu sama lain. Sayang sekali, semua kembali lagi. "Move sajalah! Tak usah banyak galau. Hidup itu cuman singkat. Isilah dengan hal yang lebih...

Puisi Kehilangan

Dia... Dia, Dia, Dia~~ Asa Indara Raga terasa telah jauh Jiwa mengena kian ambruk Tiada arahan, tak ada panduan Kemana lagi langkah akan kugerakkan? Deburan ombak seolah menggoncangku Jatuh, tenggelam dalam lautan sunyi tak bernyawa Gelap, setitik pelita hilang dari genggaman Cahya-Mu seolah melesap bersama kemaksiatan diri Pantaskah aku masih bernapas? Pantaskah aku masih ada di dalam naungan? Arus ini kian menderu kuat Menamparku berulang-ulang  Kakiku, lenganku, tubuhku kaku membeku Permata hati hancur, remuk redam Oh Sang Penjagaku siang malam, hakkah ragaku kembali bersama dekapanmu? Sungguh, rinduku menyakitkan Duniaku kelam, abu-abu tak berwarna lain Syair cinta ini benar mendalam dalam doa Sebab hanyalah nama-Mu yang ada Berilah secarik jawaban atas ini Biar pecah tangisku, biar peluh aku bersujud Aku bisa apa? Tiada berguna aku tanpa-Mu Lampung, 11 Oktober 2017 Thanks to Allah.. Thanks to Rezki Alharith Jung 😌😌 salam gemintang pe...

CURAHAN HATI SURAM

Laksana melodi tak beriring.. Monoton, membentuk satu garis.. Tujuanku; pergi dari hidupmu.. Selesai~~ Asemal Memanggil cinta  Membisu tanpa jawaban  Tanpa kata-kata  Walaupun diterpa hujan Dilema aku pada tanya Mungkin inikah jawabnya? Apa benar dia? Selajur irama lagi tak bersuara Ku bisa merasakannya  Buta saat melihatnya  Anugerah atau musibah  Diri ini takut berdarah Nestapa kian sunyi Mendiamkan melody Meretaskan imaji Haruskah aku pergi? Jangan bebaskan rasaku  Tangan ini penuh paku  Menjerit dalam angan  Aku bicara pada bayangan Bicaralah... Katakanlah... Mengapa segalanya Terenggut lepas olehmu? Logika ini memaksa  Rasa ini masih menjerit  Tak mengertikah engkau  Aku pupus dalam abu Melebur aku dalam-dalam Memerih, memendam pahit Lukaku kau gores lagi Lagi, lumpuh aku tanpamu Lampung, 10 Oktober 2017